Total Tayangan Halaman

Jumat, 21 Desember 2012

Melukis Senyum di Wajah Bapak


Melukis senyum di wajah bapak
                        Oleh     : setiyorini
            Pagi masih berembun tipis dengan kabut lumayan tebal menyelimuti deretan gunung gundul yang tampak dari jendela rumah,sementara di  sawah seberang jalan sudah ramai oleh para penduduk desa yang sedang memanen kacang tanah,aku hanya sesekali mengamati mereka  lewat beranda rumah sementara tanganku menggenggam sapu ijuk .
            ‘’Nduk,bapak ke sawah dulu ya?nanti kalau nasinya matang kamu antarkan ke sawah’’ Suara berat bapak terdengar
            ‘’Inggih ,Pak’’ Jawabku setengah berteriak
            Sesaat kemudian bapak muncul di depanku dengan cangkul dan baju dinasnya yang kumal ,rambut bapak yang mulai memutih itu  tak tampak jelas sebab tertutup caping, sedangkan kulitnya  yang menghitam terpanggang matahari dan raut muka kelelahan itu terbaca jelas olehku,melihat bapak aku langsung mencium tangan kananya dengan penuh keharuan.
            ‘’Kenapa nduk?,bapak kan cuma mau berangkat ke sawah kok pakek disalamin segala?’’tanya bapak keheranan
            ‘’Kan bapak mau berjuang mencari nafkah untuk aku ,yang sabar ya pak nanti aku janji kalau aku sudah lulus kuliah dan bekerja aku akan membawa bapak ke rumah Allah’’
            ‘’Mati maksudnya ?’’ Tanya bapak bergurau
            ‘’Ah bapak,kalau Allah merenggut bapak dariku berarti nafas dan tujuan hidupku terkubur saat itu juga ,aku hanya punya bapak dan hanya bapak hartaku yang paling berharga’’tiba-tiba suaraku tersekat dan bapak menatap haru ke arahku
            ‘’Sudahlah ,bapak kan cuma bercanda ‘’kata bapak seraya mengusap kepalaku
            Tanpa memberikan jawaban aku langsung memeluk bapak,sementara fikiranku melayang ke peristiwa sepuluh tahun yang lalu.Malam itu aku ,ibu,bapak dan seorang kakak perempuanku menginap di rumah nenek yang terletak persis di bawah bukit gundul yang tanahnya labil,sementara hujan terus turun dengan deras petir pun menggelegar mencabik-cabik rasa takut ditambah lampu mati.
            Usai adzan isya’ kemarahan langit memuncak,bukit di atas rumah nenek longsor kejadianya teramat cepat ,ayah menggendongku menyelamatkan diri sementara ibu,nenek dan kakakku tertinggal,mayat mereka baru di temukan dua hari kemudian oleh TIM SAR ,beberapa bulan setelahnya penduduk di daerah itu di relokasi ke tempat yang lebih aman,bukit itu tak lagi berpenghuni.Setelahnya  itu aku selalu ketakutan mendengar gemericik air hujan,petir bahkan melihat bukit depan rumahku pun serasa melihat malaikat maut memelototiku.
‘’Kenapa ,kok malah melamun ?’’ Tanya bapak penasaran
‘’Rahma ingat nenek,ingat kakak dan ibu juga pak’’Jawabku dengan sorot mata tajam kearah bapak
‘’Mereka sudah tenang di sana’’ jawab bapak sambil menujuk langit sebelah timur yang nampak kemerahan pertanda fajar akan segera menyembul
‘’Rahma hanya merindukan keutuhan dan kehangatan keluarga kita dulu ‘’mataku mulai tergenang air
‘’Makanya belajar yang serius agar mereka bisa bangga melihatmu sukses,bukanya almarhumah ibumu sangat ingin melihatmu memakai jas putih kebesaran para dokter?’’ayah menepuk punggungku gemas
‘’Tapi masuk kedokteran kan mahal ,Pak? Tanyaku heran
‘’Sudahlah ,yang penting kamu berusaha keras nanti biayanya kita fikirkan belakangan,ka n ada sepetak tanah peninggalan nenekmu,nanti kalau kamu diterima tanah itu kita jual untuk biaya kuliahmu’’
Aku menatap ayah tak percaya,bagaimana mungkin tanah sempit yang letaknya tidak di tempat strategis itu bisa menopang biaya kuliahku,lalu beasiswa ?apa mungkin seorang berotak standart sepertiku bisa dapat sementara ribuan pendaftar lain lebih pintar dariku,lalu bagaimana masa depanku jika aku berhenti sekolah? Aku tak ingin ayah jadi bahan cemoohan tetanggaku yang hobi bergosip itu .
‘’Kenapa ?’’bapak mulai memelototiku
‘’Iya ya pak?,alhamdulilah kita masih punya harta tersisa walaupun ndak banyak,ya sudah mending bapak cepat berangkat nanti keburu panas lho’
Bapak lalu berlalu dengan baju kumalnya,meninggalkanku mematung bersandar daun pintu.
#################################
            Aku menenteng rantang berisi nasi ,sayur bayam dan ikan asin melewati pematang sawah dengan langkah terseok-seok kubangan lumpur,sementara burung-burung pipit terbang berhamburan di atas kepalaku .Aku pun menghentikan langkah di sebuah gubug reyot di tengah tanaman padi sambil bertetiak memanggil bapak.
            ‘’Pak sarapan’’ teriakku sambil melambaikan tangan kea rah bapak yang membungkuk memotong batang tanaman padi dengan sabit yang di genggamnya
            Mendengar teriakanku bapak langsung berdiri lantas berlari ke arah gubug ,di depanku ia menyungging senyumnya yang khas
            ‘’Wah kebetulan ,perut bapak sudah keroncongan ‘’
            Aku lalu membuka tutup rantang dan menyiapkan beberapa lembar daun pisang untuk makan,udara sejuk persawahan membuat rasa lelahku melintasi pematang sawah tadi sirna sementara bapak masih mengipasi tubuhnya dengan caping yang di bawanya dari rumah
            ‘’Memangnya kamu belum makan ?’’
            ‘’Belum pak,lebih enak kalau makan di tempat terbuka seperti ini,apalagi kalau bersama orang yang kita sayang’’kataku sambil menyuapkan nasi ke mulut
            Tak pernah aku makan selahap hari itu,walau dengan menu yang tak sepenuhnya cocok di lidah tapi suasana hangat bersama bapak membuat rasa makanan itu lumer di mulut,usai makan aku seharian membantu bapak memanen padi,sama seperti rutinitas bapak ,kupaksa punggungku membungkuk menghadap langit dengan langan mengenggam sabit dan batang –batang padi yang hendak di robohkan  walau sinar matahari begitu terik dan otot-ototku tersa teramat pegal
                                    ##############################
            Malam teramat larut ,sesekali kantuk berat menyerang namun aku terus memaksa mataku menjelajahi puluhan soal SNMPTN di meja belajar’’orang sepertiku harus bekerja seratus kali lebih keras di banding orang yang berharta lebih dan berotak lebih’’kataku dalam hati
            ‘’Kok belum tidur ma?’’ tiba-tiba kepala bapak menyembul dari balik pintu kamarku
            ‘’ Masih nanggung ,Pak.’’jawabku sekenanya
            ‘’Besok di sekolah ngantuk lho’’
            ‘’Iya pak,bentar lagi .bapak tidur duluan saja’’
            Bapak lalu berlalu meninggalkanku di ruang belajar dan aku bergelut dengan buku-buku membosankan itu sampai pukul 01.00 dini hari ,sebelum aku tertidur di meja belajar dan baru bangun pukul setengah empat pagi untuk melaksanakan shalat isya’ yang kuteruskan dengan shalat lail .
            Begitulah perubahan rutinitasku setelah aku menyadari tanggung jawabku yang teramat besar kepada bapak,aku selalu tidur paling telat dan bangun paling awal untuk bergelut dengan buku-buku yang ku pinjam dari kakak kelas demi satu niat yaitu di terima di fakultas kedoteran Universitas Airlangga seperti keinginan almarhumah Ibu.
            Beberapa bulan setelah usaha over yang kulakukan hasilnya terlihat ,aku mulai menjadi 5 terbaik di kelas ,aku pun mulai antusias mengikuti berbagai bimbingan belajar yang di selenggarakan sekolah untukj menghadapi ujian akhir.
                                    #########################
            Aku menyandarkan bahuku pada kursi bus kelas ekonomi yang tak ramah penumpang sementara bapak tua  di sebelahku mengeluarkan bunyi-bunyi dengkuran yang khas aku mengamatinya sambil tersenyum geli,ia serasa membenamkan kelelahanku yang sudah dua jam duduk di jok bis.
            Tadi siang sehabis mengikuti SNMPTN  di Unair aku langsung memutuskan untuk pulang,meski badanku remuk menahan lelah pasalnya tak ada pilihan lain setelah tetanggaku memberitahukan bahwa ayahku sakit,dari kemarin siang  setelah aku berangkat ke Surabaya dia terus menggigil,dan aku tak terbiasa jauh darinya setelah peristiwa longsor itu,aku tak mau hal buruk terjadi pada bapak’’hartaku satu-satunya’’
            Sepanjang perjalanan tubuh ringkih bapak dan kemegahan gedung  Fk Unair ,bangku yang ku duduki saat tes tadi pagi membayang-bayang,walau aku terkantuk-kantuk.Sesekali aku menatap lampu jalanan yang menghambur menjauh melawan laju bis
            Aku baru sampai di Tulungagung ketika adzan subuh berkumandang,hanya 5 penumpang yang turun bersamaku sementara beberapa penumpang lain masih asyik tertidur di jok keras itu,keluar dari bus dengan menenteng ransel besar di punggung belakang aku lantas mencari ojek yang akan membawaku pulang,kemudian  menumpang ojek yang di kendarai bapak tua seumuran ayah ,bersama motor bututnya kami membelah jalanan malam yang lengang.
            Setelah beberapa kali ku ketuk pintu,ayah terbangun dan membuka daun pintu lalu memelukku dengan hangat,
                                                ##############
            Hari ini pengumuman hasil SNMPTN ,namun sampai jam 5 sore belum ada kabar dari sekolah dan aku juga belum mengakses internet sehingga aku benar-benar belum tahu apa yang terjadi pada diriku.
            Selepas shalat magrib aku memijat-mijat punggung ayah seperti biasanya ,saat asyik memijat nokia tuaku bergetar
            ‘’Assalamu’alaikum’’
            ‘’Wa’alaikum salam,selamat ya Rahma’’Suara dari seberang sana
‘’Ini siapa?’
‘’Fika,tadi aku lihat di website Unair kamu diterima di Fakultas kedokteran’’
Tanpa sadar aku langsung melepas gagang handphone yang ku pegang lantas menangis tersedu-sedu memeluk bapak,’’subhanallah’’ Tuhan membukakan jalan kebahagiaanku satu per-satu.Melihat tangisku runtuh bapak malah tertawa terbahak seraya berkata’’begitu dong anak ayah yang paling hebat,calon dokter’’.Malam ini aku melihat segala beban yang bersandar di pundak bapak menghilang termasuk duka yang dipendamnya ketika kehilangan Ibu .
Beberapa jam setelahnya hujan begitu deras saat aku meringkuk di ujung sajadah meminta kemudahan atas kuliahku,terutama soal biaya masuk yang selangit,mungkin bagi orang lain tidak ada yang lebih membahagiakan selain di terima namun bagiku di terimapun mencipta sejuta masalah,terutama soal biaya.
            #############
            12 September,aku mendatangi kampus A Unair yang terletak di di Jalan Prof. Dr. Moestopo 47,aku berniat mengundurkan diri sebagai mahasiswa baru,setelah menemui panitia pendaftaran aku dipanggil ke ruang dosen.
            ‘’Apa sudah dipikirkan baik-baik dek?’’ kata dosen setengah baya itu ri ruangannya
            ‘’Sudah,Pak’’
            ‘’Memangnya kenapa?adek diterima di PTN lain atau bagaimana?’’ alis dosen itu mulai berkerut
            ‘’Saya pengen kerja saja pak,ayah saya tidak mungkin mampu membayar SPP’’
            ‘’Kan adek bisa mendaftar sebagai penerima beasiswa?’’
            ‘’Tapi ,saya masuk lewat jalur regular pak ,itupun nomor terakhir,saya tidak sepintar para penerima beasiswa itu saya tidak mungkin lolos tes ,sekali lagi saya mohon maaf ‘’kataku sambil menceritakan latar belakang keluargaku
            ‘’Adek benar-benar ingin kuliah di sini?’’
            ‘’ Apalah arti keinginan pak ?,kalau justru membuat hidup kita makin susah’’ kataku menahan tangis
            Sang dosen masih memelototiku keheranan’’bagaimana mungkin seorang rela mengundurkan diri dari fakultas kedokteran universitas ternama?’’
            ‘’Baiklah,saya akan membantu menguusulkan beasiswa kategori tidak mampu untuk adek,adek jangan mengundurkan diri ,kalaupun nanti ndak lolos penjaringan res masuk ,biaya akan saya tanggung secara penuh’’kata dosen itu yakin
            ‘’Tapi,karena apa bapak membantu saya?’’ tanyaku sambil berurai tangis
‘’Karena negeri ini butuh jauh lebih banyak dokter gila seperti anda,dokter yang pemberani tidak takut pada apapun’’sang dosen lalu menyalamiku dan menepuk pundakku’’ semoga kelak jadi dokter yang baik ya?’’.
Ruangan dosen berubah pengap,aku langsung bersujud syukur di lantai ruang dosen ‘’alhamdulilah aku bisa membanggakan bapak,bisa melukis senyum di wajah bapak, jas putih kebesaran para dokter itu menunggu ku pakai dan kelak semoga aku bisa bermanfaat untuk orang yang butuh tenagaku,aku percaya bahwa Tuhan selalu memberikan jalan tak terduga bagi hambanya yang berusaha keras.Aku tak sabar ingin pulang melihat kerutan di wajah bapak,mengelus pundaknya dan memberitahukan kegilaan ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar